rianiputri

Gagal itu urusan nanti. Yg terpenting, kita berani untuk mencoba dan mencoba!

PENGEMBANGAN SOSIAL AUD MELALUI PERMAINAN AUD

Tinggalkan komentar

A. Hakikat bermain bagi AUD
Para pakar sering mengatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Bermain terungkap dalam berbagai bentuk bila anak-anak sedang beraktivitas. Mereka bermain ketika bernyanyi, menggali tanah, membangun balok warna-warni atau menirukan sesuatu yang dilihat. Bermain dapat berupa bergerak, seperti berlari, melempar bola, memanjat atau kegiatan berfikir, seperti menyusun puzzle, atau mengingat kata-kata sebuah lagu. Dapat pula melakukan bermain kreatif dengan menggunakan krayon, plastisin atau tanah liat.
Dalam kehidupan anak, bermain mempunyai arti yang sangat penting. Dapat dikatakan bahwa setiap anak sehat selalu mempunyai dorongan untuk bermain sehingga dapat dipastikan bahwa anak yang tidak bermain sehingga dapat dipastikan bahwa anak yang tidak bermain pada umumnya dalam keadaan sakit, jasmaniah ataupun rohaniah.
Para ahli berkesimpulan bahwa anak adalah makhluk aktif dan dinamis. Kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dan rohaniahnya anak yang mendasar sebagian besar dipenuhi melalui bermain, baik bermain sendiri maupun bersama-sama dengan teman ( kelompok ). Jadi bermain itu merupakan kebutuhan anak.
Arti bermain bagi anak berdasarkan pengamatan , pengalaman dan hasil penelitian para ahli dapat dikatakan bahwa bermain mempunyai arti sebagai berikut :
1. Anak memperoleh kesempatan mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya
2. Anak akan menemukan dirinya, yaitu kelemahan dan kekuatan dirinya, kemampuannya, serta minat dan kebutuhannya
3. Memberikan peluang bagi anak untuk berkembang seutuhnya, baik fisik, intelektual, bahasa dan perilaku ( psikologi dan emosional )
4. Anak terbiasa menggunakan seluruh aspek indranya sehingga terlatih dengan baik
5. Secara alamiah memotivasi anak mengetahui sesuatu lebih mendalam lagi

Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya sehingga pembelajaran menjadi bermakna karena sebab-sebab berikut ini :
1. Bermain itu belajar
Kemampuan intelektual ( daya pikir ) anak sebagian besar dikembangkan dalam kegiatan bermain. Melalui bermain anak memperoleh kesempatan menemukan serta bereksperimen dengan alam sekitarnya. Melalui bermain anak memperoleh kesempatan pengalaman yang makin memperjelas hal-hal yang mereka pelajari dikelas atau dirumah. Bermain juga menumbuhkan rasa ingin menyelidiki yang akan memperkaya pengertiannya. Keinginan menyelidiki ini akan terus berlanjut dalam hidupnya.
2. Bermain itu bergerak
Kegiatan-kegiatan di yang dilakukan PAUD untuk merangsang anak menggunakan motorik kasar maupun motorik halus yang dapat dilakukan melalui aktifitas bermain, baik dengan alat maupun tanpa alat. Bermain juga mengembangkan kesadaran anak akan kemampuan tubuhnya ketika ia menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. Demikian juga halnya dengan pengembangan otot besar untuk motirik kasar, seperti melompat, memanjat, menggelinding, berlari dan sebagainya. Pengalaman anggota tubuh selama aktifitas bermain menjadikan anak-anak mengembangkan keterampilan bergerak serta merasa percaya diri dengan kekuatan tubuhnya.
3. Bermain membentuk perilaku
Saat bermain tampak jelas perkembangan perilaku anak. Program kegiatan belajar di PAUD dipadukan dalam sebuah kegiatan pembelajaran yang utuh mencakup program dalam rangka pembentukan perilaku melalu pembiasaan serta progrram pengembangan pengetahuan dasar. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan serta pembelajaran tersebut meliputi moral dan nilai-nilai agama, emosi dan perasaan, kemampuan bersosialisasi dan disiplin dengan tujuan agar anak tumbuh dengan matang dan mandiri.

B. Fungsi bermain dalam perkembangan sosial anak usia dini
Bermain bagi anak memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Menanamkan budi pekerti yang baik
2. Melatih anak untuk dapat membedakan sikap perilaku yang baik dan yang tidak baik
3. Melatih sikap ramah, suka bekerjasama, menunjukkan kepedulian
4. Menanamkan kebiasaan disiplin dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari
5. Melatih anak untuk mencintai ciptaan tuhan dan lingkungan
6. Melatih anak untuk selslu tertib dan patuh pada peraturan
7. Melatih anak untuk berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang benar
8. Menjaga keamanan diri
9. Melatih anak untuk mengerti berbagai konsep moral yang mendasar, seprti salah, benar, jujur, adil, dan fair.

C. Bentuk permainan yang mendorong perkembangan sosial AUD
Beberapa bentuk permainan yang mendorong perkembangan sosial AUD yaitu diantaranya :
1. Bermain balok
Saat bermain balok anak-anak bebas mengeluarkan dan menggunakan imajinasi serta keinginannya untuk menemukan agar dapat bermain dengan kreatif. Di TK hendaknya disediakan beberapa set dan jenis balok, seperti balok-balok ukuran besar, ukuran kecil dan balok yang dapat dimainkan di meja ( table blocks ).
Dalam permainan balok konsep pengetahuan matematika akan mereka temukan sendiri, seperti nama bentuk, ukuran, warna, pengertian sama/ tidak sama, seimbang. Sosialisasi juga terjadi pada saat anak membagi tugas, menentukan pilihan, berbagi pengalaman, tenggang rasa dan berkomunikasi yang baik. Pengetahuan sosial juga dapat timbul, misalnya membuat kota, gedung-gedung, kantor, rumah, stasiun.
Tahap-tahap yang dilalui anak dalam bermain balok menurut Apelman ( 1984) ada 7 tahapan bermain balok yang dibuat Harriet Johnson ( 1982 ) yaitu sebagai berikut :
1. Tahap pertama, balok-balok dibawa anak-anak kemana-mana, tetapi tidak digunakan untuk membangun sesuatu. ( usia 1 – 2 tahun )
2. Tahap kedua, anak-anak mulai membangun. Balok-balok dijejerkan secara horizontal maupun vertiakal yang dilakukan secara berulang-ulang ( usia 2 – 3 tahun )
3. Tahap ketiga, membangun jembatan ( usia 3 tahun )
4. Tahap keempat, membuat pagar untuk memagari suatu ruang ( usia 2, 3 atau 4 tahun )
5. Tahap kelima, membangun bentuk-bentuk yang dekoratif. Bangunan-bangunan belum diberi nama, tetapi bentuk-bentuk simetris sudah tampak. Kadang-kadang juga nama yang diberikan, namun tak ada hubungannya dengan fungsi bangunan tersebut ( usia 4 tahun)
6. Tahap keenam, sudah mulai memberi nama pada bangunan. Khususnya untuk permainan dramatisasi bebas (usia 4 sampai 6 tahun )
7. Tahap ketujuh, bangunan-bangunan yang dibuat anak-anak sering menirukan atau melambangkan bangunan yang sebenarnya yang mereka ketahui. Anak-anak mempunyai dorongan yang kuat untuk bermain peran ( dramatisasi ) dengan bangunan yang di buatnya ( usia 5 tahun ke atas )

Balok dianggap sebagai alat bermain yang paling bermanfaat dan yang paling banyak digunakan di TK mampun lembaga pendidikan prasekolah. Variasi bentuk, ukuran, warna dan berat balok menunjang pengalaman belajar anak usia dini. Balok memberi banyak kesempatan bagi anak-anak untuk berkembang dalam berbagai cara, nilai dari membangun dengan balok pada pengembangan sosial anak yaitu sebagai berikut :
1.) Anak-anak belajar bekerja sama melalui pengalaman menyusun balok membuat satu proyek bersama
2.) Anak-anak belajar untuk menunggu giliran berbagi alat ( sharing ) dan menghargai hak-hak orang lain
3.) Melatih kekompakan dan bertoleransi serta melatih untuk rukun dengan teman
4.) Keberhasilan dalam menyelesaikan suatu bangunan dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak-anak sekalipun bentuk bangunan yang dibuat anak-anak masih belum baik, namun anak akan merasa puas dan bangga akan hasil ciptaannya dan hal itu mempunyai arti baginya.

2. Bermain pasir
Pasir memiliki tekstur yang lain dengan lumpur atau tanah, pasir juga digemari anak hingga orang dewasa karena pasir sangat bernilai tinggi dalam pendidikan. Setiap anak senang bermain dengan air maupun pasir.
Kegiatan bermain pasir dan air merupakan kegiatan yang penting bagi AUD. Kedua kegiatan ini menarik dan sangat digemari oleh anak-anak. Bermain pasir dan air juga memberikan kesibukan yang sangat mengasyikkan. Ada sesuatu alami dan mendasar tentang bermain pasir dan air .Banyak ahli pendidikan anak yang mengatakan bahwa bermain pasir dan air memberikan kemungkinan-kemungkinan pembelajaran yang kaya dan menyenangkan bagi anak-anak.
Menurut Dodge ( 1991 ) cara anak-anak bermain dengan air dan pasir tidak selalu sama. Seorang anak mungkin lebih berpengalaman bermain pasir daripada anak lain dan anak lainnya mungkin lebih berpengalaman dengan air. Ini dikarenakan pengalaman sebelumnya dan kemajuan perkembangan tiap anak dalam bermain air dan pasir tidak selalu sama. Menurut Dogde guru hendaknya memberikan dorongan pada anak-anak untuk mengeksplorasi keduanya.
Menurut Dogde, Tahap bermain pasir dan air yaitu :
a. Tahap pertama, eksplorasi sensori-motor yang berhubungan dengan pancaindra. Pada tahap ini anak mengenal sifat-sifat pasir dan air, mereka menukan bunyi titik-titik air hujan pada atap rumah dan bunyi pancaran air. Mereka juga mengalami perasaan yang aneh ketika air atau pasir melalui sela-sela jarinya, membasahi atau mengotori tangannya atau bahkan melihat air menghilang terisap oleh pasir/ tanah
b. Tahap kedua, anak-anak mempergunakan pengalaman belajar mereka untuk suatu tujuan. Bermain merupakan aktivitas anak-anak dengan perencanaan, percobaan-percobaan, kegiatan-kegiatan dengan air dan pasir
c. Tahap ketiga, anak-anak menyempurnakan hasil dari tahap-tahap sebelumnya. Pada tahap ini pengalaman anak ditunjukkan dalam keruwetan kegiatan yang direncanakan sendiri.

Dalam permainan pasir dan air selain meningkatkan kemampuan motorik kasar, kognitif, perkembangan sosial dan emosional berkembang. Terjadi ketika anak bermain dengan riang gembira, rukun dan sabar, mengahasilkan sesuatu yang membanggakan dan menimbulkan perasaan puas, meninkatkan percaya diri dan harga diri. Saat bermain anak tidak mengalami rasa gagal karena mereka dapat menggunakan air berulang-ulang, mereka bisa berhenti kapan saja jika sudah mulai bosan. Berbagai eksperimen sederhana dapat guru lakukan bersama anak-anak menggunakan pasir maupun air. Sangat bijaksana bila anak-anak dibiarkan menemukan sendiri keingintahuannya dan biarkan anak menjelaskan sendiri.
Dalam buku perkembangan anak edisi kesebelas jilid II ( Santrock : 217-219 )Permainan sosial adalah permainan yang melibatkan interaksi dengan sebaya. Mildred Parten (1932) mengembangkan klasifikasi permainan secara mendetail, berdasarkan observasi terhadap anak-anak dalam permaina bebas di pre-school, parten mengajukan tipe-tipe permainan berikut :
• Unoccupied play, bukanlah permainan seperti yang umum kita pahami. Si anak mungkin berdiri di satu tempat atau melakukan gerakan acak yang tampaknya tidak memiliki tujuan. Di kebanyakan pre-school, unoccupied play lebih jarang dimainkan dibanding bentuk permainan lain
• Solitary play, terjadi ketika anak bermian sendiri dan mandiri dari orang lain. Si anak terlihat asyik dengan aktivitasnya dan tidak terlalu mempeduikan hal-hal lain yang terjadi. Anak-anak usia 2-3 tahun lebih seirng terlibat dalam solitary play dibanding siswa pre-school yang lebih tua.
• Onlooker play, terjadi ketika si anak memperhatikan anak-anak lain bermain. Si anak mungkin berbicara dengan anak lain dan bertanya namun tidak ikut berman. Minat aktif si anak pada permainan anak lain membedakan onlooker play dari unoccupied play
• Parallel play, terjadi ketika si anak bermain terpisah dari anak-anak lain tetapi dengan mainan yang sama dengan dimainkan anak lain dengan cara yang meniru permainan anak lain. Semakin tua usia anak, semakin jarang mereka melakukan jenis permainan ini.
• Associative play, melibatkan interaksi sosial dengan sedikit atau tanpa pengaturan. Dalam tipe permainan ini, anak-anak kelihatan lebih tertarik pada satu sama lain dibandingkan pada permainan yang mereka mainkan. Meminjam atau meminjamkan mainan dan mengikuti atau memimpin satu sama lain adalah contoh associative play.
• Cooperative play, terdiri dari interksi sosial dalam satu kelompok dibarengi dengan adanya perasaan identitas kelompok dan aktivitas terorganisir. Permainan formal anak-anak, kompetisi dengan sasaran kemenangan, dan kelompok-kelompok yang dibentuk oleh guru untuk melakukan hal tertentu bersama-sama adalah cooperative play menjadi prototipe dari permainan pada pertengahan masa kanak-kanak. Hanya sedikit cooperative play yang terlihat pada masa prasekolah.

D. Alat- alat permainan yang mendorong perkembangan sosial AUD
1. Bermain balok
Di TK hendaknya disediakan beberapa set dan jenis balok, seperti balok-balok ukuran besar, ukuran kecil dan balok yang dapat dimainkan di meja ( table blocks ).
2. Bermain pasir
Kebanyakan bak pasir dibaut dari bahan kayu yang dilapisi seng dengan ukuran 100 x 90 x 30 cm atau 2 x 1 ½ x 0,35 m. Bentuk dan ukuran dapat saja diciptakan sendiri sesuai dengan tempat, kemampuan dan kebutuhan sekolah. Bak pasir juga dapat beroda pada kakinya agar dapat didorong ke tempat-tempat yang diingikan guru. Bila hari hujan, anak masih dapat bermain pasir. Apabila pasir tidak digunakan, bak pasir harus ditutup karena kotoran kucing atau binatang lain akan membahayakan kesehatan anak. Demikian pula peralatan-peralatan yang dipakai senantiasa diganti atau ditambah agar anak tidak merasa bosan dan mendapatkan berbagai pengalaman baru.

E. Usaha guru dalam memanfaatkan permainan untuk mengembangkan perkembangan sosial AUD
1. Bermain balok
Berikut beberapa petunjuk yang dapat membantu guru mengoptimalkan pembelajaran dalam permainan balok
a. Letakkan balok dalam rak terbuka dan dapat dijangkau anak-anak sehingga dapat dikeluarkan dan dimasukkan kemblai dengan mudah
b. Sediakan jumlah unit balok yang cukup, sesuai dengan jumlah anak yang menggunakannya
c. Alokasikan arena di lantai yang cukup untuk bermain balok yang jauh dari lalu-lalang. Sebaiknya area balok diletakkan berdekatan dengan area bermain peran atau area keluarga dan jangan berdekatan dengan area kegiatan yang memerlukan ketenangan
d. Sediakan waktu yang cukup untuk bermain ± 45- 60 menit
e. Usahakan untuk bermain balok di lantai yang raa dengan alas karpet agar balok tidak rusak atau menimbulkan suara yang keras dan mengganggu
f. Untuk mengembangkan kemampuan sosial anak, dalam beberapa kegiatan bermain balok adakan permainan yang menuntut kerjasama seperti menyusun balok menjadi sebuah bentuk bangunan, ini akan meningkatkan kemampuan sosial anak karena anak dituntut untuk bekerjasama dengan teman-temannya.
g. Membereskan balok-balok sesudah bermain, memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyusun kembali di rak, tidak perlu tergesa-gesa. Perlu dibuat kesepakatan bersama anak tentang tanda-tanda yang digunakan ketika waktu membereskan tiba. Sebaiknya tanda dibunyikan / diberikan 10 menit sebelum waktu membereskan
h. Anak-anak perlu diberikan kegiatan selanjutnya sesudah bermain balok. Menunggu di masa transisi ( pergantian dari satu kegiatan ke kegiatan lain ) dapat menyebabkan kekacauan dalam kelas. Agar tidak terjadi anak-anak harus diberitahu sebelumnya mengenai kegiatan berikutnya.
i. Bimbingan harus diberikan dengan sangat bijaksana. Bantuan atau bimbingan diberikan bila diperlukan dengan memperhatikan tahap perkembangan dan kemampuan anak
j. Guru juga dapat memberikan stimulasi yang menantang untuk menciptakan dengan balok-balok, diantaranya dengan menyediakan alat-alat dan perlengkapan yang cukup dan menarik minat anak dan jelas dalam memberikan instruksi

2. Bermain pasir dan air
Dalam kegiatan bermain pasir dan air, guru perlu memperhatikan beberapa hal penting agar kegiatan bermain pasir dan air berehasil dengan baik sesuai dengan tujuan yang direncanakan yaitu :
a. Keamanan
1) Lantai yang licin karena basah, alat-alat yang rusak/ pecah dan tajam perlu dihindari
2) Anak-anak bermain pasir dan air tidak sesuai dengan caranya harus segera diberitahu cara yang benar
b. Jumlah anak yang bermain
Agar dalam kegiatan bermain bebas anak-anka tidak menumpuk dalam satu area kegiatan bermain maka guru dianjurkan untuk menetapkan jumlah anka yang dapat bermian dalam suatu area pada waktu yang sama.

c. Penyimpanan peralatan bermain
Aturan-aturan sederhana sebelum bermain, misalnya pasir dan air tidak untuk dibawa diluar area
d. Tersedianya tempat untuk anak-anak membersihkan diri dengan air, sabun, handuk/serbet
e. Kelengkapan alat-alat yang diatur sedemikian rupa sehingga merangsang anak-anak untuk bermain
f. Kebersihan pasir dan air yang akan digunakan lengkapi bakp asir dan air dengan penutup dan jangan lupa menutupnya setelah selesai digunakan
g. Untuk meningkatkan kemampuan sosial anak agar berkembang, guru hendaknya memberikan kebebasan anak dalam bermain pasir dan air dengan teman-temannya agar kemampuan sosial anak berkembang tapi tetap perlu diawasi dan memberikan aturan-aturan yang tidak mengekang anak selama melakukan kegiatan bermain ini.

Daftar pustaka
Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak jilid 1 edisi Keenam(terj.). Jakarta : Erlangga
Montolalu, B.E.F,dkk. 2006. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta : Universitas Terbuka
Rakimahwati. 2011. Bahan Ajar Bermain dan Permainan Anak Usia Dini. Padang : Universitas Negeri Padang
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak Edisi Kesebelas Jilid 2 ( terj.). Jakarta : Erlangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s